https://philosophiamundi.id/index.php/philosophia/issue/feed Philosophiamundi 2026-08-18T04:36:12+07:00 Muhammad Fauzi Ilham fauzilol2@gmail.com Open Journal Systems PHILOSOPHIA MUNDI https://philosophiamundi.id/index.php/philosophia/article/view/183 Merti Desa Lestari: Pemberdayaan Masyarakat Desa Bejijong Melalui Integrasi Program Lingkungan, Pendidikan Karakter, Dan Ekonomi Kreatif Berbasis Budaya Lokal 2026-08-18T04:36:12+07:00 Alan Achmad Zein Zeinalan@gmail.com Sayyida Nur Halizah sayyidahalizah@gmail.com Ayunda Eka Permata Ayundaekapermata11@gmail.com Muhammad Bakhtiar Yusuf muhammadbakhtiaryusuf71@gmail.com Ravina Anggie Esna Putri ravinaanggie19@gmail.com Navaliska Putri Bayu Valentina putrinavaliska@gmail.com Muhammad Ali Rohmad alirohmad86@unim.ac.id <p>Desa Bejijong, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto merupakan kawasan desa wisata budaya peninggalan Kerajaan Majapahit yang menghadapi berbagai tantangan di bidang lingkungan, sumber daya manusia, dan ekonomi kreatif. Meningkatnya volume sampah, rendahnya pemahaman masyarakat tentang pengelolaan lingkungan, kurangnya edukasi karakter bagi generasi muda, serta keterbatasan UMKM dalam memanfaatkan teknologi digital menjadi permasalahan utama yang memerlukan penanganan terpadu. Kegiatan pengabdian masyarakat ini dilaksanakan oleh mahasiswa KKN Tematik Universitas Islam Majapahit selama 30 hari dengan program bertema "Merti Desa Lestari: Merawat Lingkungan, Membangun Insan, Mengukir Karya". Program ini mengintegrasikan empat bidang utama: (1) pengelolaan sampah rumah tangga melalui edukasi Bank Sampah dan pemilahan sampah; (2) inovasi kreatif berbasis lingkungan melalui pembuatan penjor dari limbah plastik; (3) penguatan karakter generasi muda melalui sosialisasi kesehatan mental, pencegahan narkoba, dan cyber bullying; serta (4) pengembangan branding digital UMKM pengrajin kuningan. Metode pelaksanaan mencakup observasi, sosialisasi, pelatihan partisipatif, pendampingan, dan evaluasi. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan kesadaran masyarakat terhadap pengelolaan lingkungan, antusiasme generasi muda dalam edukasi karakter, dan terbentuknya aset digital promosi UMKM lokal. Program ini menjadi model pemberdayaan desa wisata budaya yang berkelanjutan berbasis kolaborasi multisektor.</p> 2026-08-18T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2026 Philosophiamundi https://philosophiamundi.id/index.php/philosophia/article/view/182 Collaborative Governance dalam Pelestarian dan Transformasi Tradisi Ruwat Desa: Studi Kasus Integrasi Sound Horeg di Desa Medali, Kabupaten Mojokerto 2026-08-04T15:40:34+07:00 Marta Sari Dwi Ayuningtyas martasaridwii22@gmail.com Dian Wijaya dianw@unim.ac.id Santosa santosa@unim.ac.id <p><em>This study examines collaborative governance between village government and community in preserving the ruwat desa tradition that integrates sound horeg as a form of modern entertainment in Medali Village, Puri District, Mojokerto Regency. The sound horeg phenomenon, which has rapidly developed in East Java since 2023, has entered local traditional spaces, creating new dynamics between cultural preservation and adaptation to modernity. Using a descriptive qualitative approach with in-depth interviews, observation, and documentation, this study analyzes the collaboration process through Ansell &amp; Gash's (2008) Collaborative Governance framework comprising four dimensions: starting conditions, institutional design, facilitative leadership, and collaborative process. The results show that the preservation of the sound horeg-based ruwat desa in Medali Village was implemented through a deliberative mechanism involving the village government, youth organizations, community leaders, neighborhood units, and sound horeg providers. The village head served as a facilitator bridging different viewpoints among actors, while technical regulations referenced the East Java Governor Circular No. 300.1/6902/209.5/2025. The integration of sound horeg proved effective in increasing community participation, especially among youth, without eliminating the core values of the tradition. These findings affirm that local cultural adaptation can be sustainably sustained when supported by inclusive, transparent, and consensus-oriented collaborative governance.</em></p> 2026-08-14T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2026 Philosophiamundi